avivah.co

astronomi komunikasi

Home / Catatan / Kala Indonesia Kekurangan Astronom
Sep 18 2016

Kala Indonesia Kekurangan Astronom

Musim gerhana tahun 2016 telah usai. Tapi ada satu kenangan yang tersisa dari momen gerhana tahun 2016 ini.

Astronomi jadi trending topik di awal tahun 2016!

Tentu saja karena Gerhana Matahari Total yang melintasi Indonesia dengan jalur totalitas yang membentang dari barat ke timur. Peristiwa ini menjadi cerita tersendiri bagi masyarakat maupun para astronom.  Dan untuk saya sendiri.

GMT 2016 jadi kesempatan langka bagi publik Indonesia untuk bisa mengamati totalitas maupun gerhana sebagian yang porsinya dari 50%-99%. Tapi jangan salah. Gerhana Matahari Total itu sendiri bukan peristiwa langka. Rata-rata GMT terjadi setiap 18 bulan. Atau dalam 3 tahun ada 2 GMT.

Persiapan GMT di Indonesia sendiri dimulai April tahun 2015. Untuk saya dan teman-teman di langitselatan, pembicaraan terkait GMT sudah dimulai sejak Transit Venus berakhir.  Kalau ingin tahu tentang langitselatan di GMT 2016, bisa baca di tulisan Mengejar Matahari Hingga Pulau Rempah. Saya juga ikut bergabung dalam kepanitiaan nasional GMT 2016.

Meskipun sejak tahun 2015 informasi GMT 2016 sudah didengungkan dan dipaparkan lewat berbagai media, tampaknya kebiasaan last minute tidak pernah lepas dari kita. Fokus GMT 2016 seakan baru dimulai pada bulan Januari 2016 saat LAPAN, Kementrian Pariwisata, dan lembaga terkait meluncurkan “momen gerhana” sebagai suatu event nasional. Dari sisi pariwisata, jelas GMT memberi nilai plus plus dengan kedatangan wisatawan asing maupun wisatawan domestik aka pemburu gerhana yang berbondong-bondong mengunjungi lokasi jalur totalitas.

Satu hal penting dari gerhana matahari bukan sekedar pemahaman bagaimana gerhana itu terjadi. Melainkan bagaimana publik bisa menikmati gerhana tanpa ketakutan akan mengalami kebutaan. Sejarah mencatat, saat GMT 1983 terjadi, ada perintah dari pemerintah terkait untuk melarang masyarakat mengamati Gerhana Matahari karena bisa menyebabkan kebutaan. Saat itu, para astronom sudah berkampanye untuk memperkenalkan cara pengamatan yang benar. Akan tetapi, ketakutan pemerintah menyebabkan mereka mengambil jalan pintas termudah. Larang saja smeua orang untuk melihat gerhana. Selesai.

Karena itulah, seluruh astronom maupun astronom amatir bergerilya memberi pemahaman maupun petunjuk bagaimana membuat alat sederhana untuk bisa melihat gerhana matahari.  Di sini, jelas peran media cetak maupun elektronik menjadi sangat penting.

Tapi.. sepertinya isu baru “laku” dijual saat menjelang hari H. Rata-rata media cetak, online maupun elektronik baru mulai menurunkan berita terkait Gerhana Matahari Total di Indonesia itu sekitar bulan Januari 2016. Dan secara masif, pemberitaan baru dilakukan sekitar 1 bulan sampai 2 minggu sebelum GMT.

Komunikasi Gerhana Matahari Total 2016

gerhanainfo

Untuk memperkenalkan Gerhana Matahari Total 2016, seluruh situs astronomi yang ada di Indonesia jelas turut berpartisipasi dalam memaparkan peristiwa tersebut. Bahkan bisa dikatakan situs astronomi di Indonesia sudah mulai menyebarkan berita sejak tahun 2015.

Di antara situs astronomi secara umum, saya dan rekan-rekan di langitselatan membuat satu situs terpisah yang khusus membahas tentang gerhana. Namanya gerhana.info. Idenya memang khusus tentang gerhana matahari total 2016, baik dari sisi saintifik maupun pariwisata. Situs dibuat bilingual untuk membantu rekan-rekan dari mancanegara untuk memahami lokasi pengamatan di jalur totalitas.

Situs Gerhana.Info dimulai tahun 2015 dan menjadi corong utama yang menjembatani astronom dan publik. Juga media. Sebagian tulisan kami dijadikan rujukan media massa untuk memahami peristiwa gerhana. Selain itu, rekan-rekan astronom asing juga menggunakan informasi yang kami sediakan untuk rujukan.

Selain gerhana.info, panitia nasional GMT2016 juga membuat situs gerhana-indonesia.id untuk memperkenalkan gerhana matahari dan streaming gerhana. Sebagian informasi gerhana di situs tersebut juga merupakan publikasi silang dari Gerhana.Info.

Nah, ada yang menarik.

Seperti yang saya paparkan sebelumnya, media di Indonesia baru menurunkan berita gerhana secara masif sejak Januari / Februari 2016.  Para astronom di Indonesia, untuk pertama kalinya di era teknologi informasi yang seba cepat ini jadi laku bak kacang goreng. Jadwal para astronom dan astronom amatir pun padat dari media ke media untuk menjadi narasumber.

Ini jelas menarik dan menguntungkan. Karena peristiwa gerhana membuka gerbang kesadaran astronomi bagi publik. Ini loh peristiwa alam yang namanya Gerhana. Begini nih kerjaan astronom.

Tak pelak, topik gerhana matahari dan bagaimana mengamati gerhana matahari jadi bahasan di berbagai media maupun jejaring sosial.

Ada satu masalah yang muncul jelang hari H. Seluruh astronom maupun astronom amatir sudah memiliki agenda untuk melakukan perjalanan ke jalur totalitas. Demikian juga kami. Media massa pun sudah mengutus wartawannya untuk bertugas di area totalitas dan meliput kegiatan para astronom dan pemburu gerhana.

gmt-image-002

Masalah yang dihadapi, media elektronik yang akan melakukan siaran langsung membutuhkan astronom untuk berada di studio dan menjadi narasumber. Apalagi ada permintaan kriteria narasumber : astronom perempuan, pinter, dan cantik. Astronomnya saja cuma sedikit….jadi bagaimana bisa memenuhi syarat seperti itu?

Dan….untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia astronomi Indonesia, kita kehabisan astronom untuk menjadi nara sumber.  Yup! Sebagian besar astronom dan astronom amatir sudah berada di lokasi totalitas, memberi edukasi pada masyarakat setempat dan bersiap untuk pengamatan.

Akhirnya, beberapa dosen yang tidak melakukan perjalanan pun diminta untuk menjadi narasumber dan para alumni yang sudah lama tidak lagi berkiprah di astronomi ikut turun gunung. Sekali-kali pakai istilah dunia persilatan yak. Beberapa alumni senior seperti Ibu Karlina dan Pak Mezak maupun rekan astronom Indonesia yang bekerja di Chile maupun Jerman juga dikontak sebagai narasumber media.

Narasumber lainnya adalah alumni astronomi ITB yang sudah lama tidak berkiprah di dunia astronomi. Istilah kami, astronom murtad. Semua ikut ambil bagian untuk memberikan informasi tentang gerhana pada publik. Saat itu, mencari narasumber itu sulit sekali. Akhirnya sempat terjadi pembagian jatah di kalangan alumni untuk melayani setiap stasiun televisi sementara para astronom bertugas di lokasi totalitas.

Inilah pertama kalinya, Indonesia kekurangan astronom!

Masalah ini tidak dialami sebelumnya, terutama di tahun 1983, 1988 ataupun 1995 ketika media elektronik dalam hal ini televisi masih sedikit. Di era 80-an sampai 90-an awal hanya ada satu stasiun TV yakni TVRI yang kemudian diikuti oleh sebuah stasiun televisi swasta.  Tapi mungkin saja kejadian serupa terjadi dahulu ketika narasumber dibutuhkan untuk siaran radio. Sayangnya saya tidak punya data untuk GMT tahun 1980-an.

Tahun 2016? Ada 16 stasiun TV dan beberapa media yang melakukan streaming di dunia maya.

gmt-image-001
Akan tetapi, ada beberapa catatan dalam populerisasi gerhana:

  1. Masih ada media yang memberitakan bahwa pengamatan gerhana matahari secara langsung dengan filter itu berbahaya. Dan menyarankan agar tidak dilakukan pengamatan secara langsung.
  2. Misinformasi bahwa gerhana matahari itu langka terjadi masih ada. Pernyataan bahwa gerhana Matahari hanya terjadi 300 atau 350 tahun yang menjadi tagline, memberikan informasi yang agak keliru bagi publik. Para astronom memang memberi informasi rata-rata gerhana matahari total melintasi satu lokasi yang sama 350 tahun sekali. tapi tidak berarti gerhana matahari total di lokasi itu berulang 350 tahun sekali. Ada yang lebih lama ataupun lebih cepat untuk bisa menikmati totalitas. Sayangnya, informasi peristiwa langka memang lebih pas dijual sehingga yang lebih diangkat adalah kelangkaannya.
  3. Peredaran kacamata gerhana yang bukan dilengkapi filter matahari ND5 masih ditemukan di berbagai lokasi.
  4. Serupa dengan misinformasi kelangkaan gerhana, pengamatan dengan menggunakan kacamata las yang seharusnya nomer 14 juga tidak tersampaikan dengan baik. Akibatnya masih banyak yang menggunakan kacamata las yang umum digunakan untuk melihat gerhana matahari.
  5. Indonesia sangat luas. Persiapan satu tahun, tidaklah cukup untuk bisa mengedukasi masyarakat terkait peristiwa astronomi tersebut.
  6. Kolaborasi media massa seharusnya dilakukan sejak awal untuk mencegah kekurangan narasumber di hari H.
Share this entry
1 Comments
  1. Semoga artikel tentang Indonesia kekurangan astronomi ini bisa terbaca oleh penentu kebijakan dan pihak-pihak terkait yang berhubungan dengan astronomi…

    artikelnya lengkap dan membuka wawasan saya mengenal lebih dalam tentang gerhana. Trims, ya 🙂

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori