avivah.co

astronomi komunikasi

Home / EPO / Oral vs Poster
Oct 12 2014

Oral vs Poster

Manakah yang lebih penting, oral atau poster? Pertanyaan ini muncul karena seringkali ada anggapan oral itu jauh lebih prestisius dibanding poster. Well.. sebelum melanjutkan, saya sedang membicarakan presentasi oral aka lisan dan presentasi poster yang ada dalam sebuah konferensi.

Bagi sebagian besar peserta sebuah konferensi, memperoleh kesempatan melakukan presentasi lisan memang suatu keistimewaan karena yang diterima untuk lisan biasanya jauh lebih sedikit dibanding poster. Biasanya ini disebabkan oleh jumlah peserta yang sangat banyak dan alokasi waktu untuk presentasi lisan tidak dapat menampung semuanya. Karena itu, pada akhirnya ada yang diberi kesempatan melakukan presentasi lisan dan ada yang kemudian diberi kesempatan menampilkan hasil pekerjaannya dalam bentuk poster.

Dari sinilah kemudian muncul ide bahwa presentasi lisan memiliki nilai prestise lebih tinggi dibandingkan presentasi poster. Apalagi ada ide bahwa, dikarenakan sebuah konferensi membutuhkan peserta dan “pemasukan” dari registrasi maka poster akan diterima sebanyak-banyaknya tanpa diseleksi.

Saya tidak akan membahas apakah poster diterima sekedar untuk memperoleh banyak peserta atau tidak. Tapi menurut pendapat saya pribadi, tidaklah demikian.

Saya tidak akan membahas lebih jauh dari sisi panitia karena tiap panitia konferensi tentunya punya cara pandang yang berbeda. Akan tetapi, pengalaman menjadi panitia lokal maupun panitia saintifik membuat saya memahami bahwa sebuah presentasi diterima sebagai lisan dan poster selalu melalui tahapan seleksi jika memiliki kesesuaian dengan topik konferensi dan seberapa menarik materi yang diajukan jika disesuaikan dengan topik konferensi itu sendiri.

Pengalaman Pribadi

saat presentasi di SEAYAC 2013. kredit: Agus Triono PJ

saat presentasi di SEAYAC 2013. kredit: Agus Triono PJ

Dalam tulisan ini, saya hendak menceritakan pengalaman dan opini pribadi saya terkait presentasi poster dan lisan dalam sebuah konferensi.

Di jurusan saya, Astronomi, presentasi merupakan kegiatan sehari-hari. tapi tetap saja, yang namanya berbicara di depan publik merupakan masalah bagi saya. Jangankan presentasi, memaparkan pengumuman di kelas kuliah agama saja saya bisa salah karena panik. 🙂 Tapi saya selalu ingat nasihat alm dosen astrofisika saya, Bpk. Djoni Dawanas, grogi itu bukan cuma milik penyaji baru. Ada orang-orang yang memang selalu punya masalah psikologis berbicara di depan publik. Problemanya adalah bagaimana kamu mengatasinya. Ya tapi namanya juga panik tetap saja, apalagi di Astronomi kalau presentasi pesertanya tentu teman sendiri yang memang kadang jauh lebih sadis dibanding peserta konferensi. 😀

Saya pribadi menyukai poster dan lisan untuk dua alasan yang berbeda. Tapi tidak demikian di tahun 2003.

Saat itu, untuk pertama kalinya saya diminta pembimbing saya untuk melakukan presentasi di seminar perayaan 80 Tahun Observatorium Bosscha (kalau saya tidak amnesia aka lupa ingatan). Sebagai seseorang yang selalu punya sindrom untuk berbicara di depan umum, presentasi lisan menjadi masalah tersendiri buat saya.

Hal yang sama terjadi saat itu. Ceritanya waktu itu ada tamu dari luar dan kami diberi pilihan, presentasi dengan bahasa inggris tapi salindia bahasa Indonesia atau sebaliknya. Berhubung saya buat presentasi bahasa Indonesia saja gugup saya pun memilih bahasa Indonesia. Dan benar saja karena grogi saya sempat membuat kekacauan yang agak berbuah manis mengingat bantuan yang saya peroleh saat itu bukan hanya dari astronom luar yang jadi tamu tapi juga dari seorang bapak ganteng yang bisa membuat banyak cewe histeris.

Well.. itulah pengalaman pertama saya melakukan presentasi di sebuah seminar. Problema psikologis itu masih terasa sampai hari ini ketika saya mempersiapkan presentasi lisan. Tapi sejak 2003, saya cenderung memilih presentasi poster, dengan alasan agar tdak perlu presentasi lisan karena saya selalu merasa tidak mampu untuk berbicara di depan publik dengan baik.  Selain itu, pernah ketika saya hendak mengajukan materi presentasi ke sebuah konferensi, saya diminta untuk melakukan konsultasi ke panitia untuk menanyakan apakah topik saya cocok untuk dipresentasikan. Sayangnya jawabannya agak membuat saya lebih percaya diri mengajukan poster dibanding lisan. Saat itu jawaban yang saya terima mempertanyakan kualitas materi saya apakah sudah kualitas internasional atau belum. Jawaban inilah yang kemudian membuat saya berpikir bahwa materi saya belum pantas dijadikan materi presentasi lisan yang memiliki prestise lebih tinggi dibanding poster. Bahwa presentasi lisan hanya milik para ahli dan bukan mahasiswa.

Itulah momen pertama saya mengenal yang namanya presentasi poster. Ada ternyata cara cepat ikut konferensi tanpa harus presentasi di depan para ahli. Bawa saja poster!

Tahun 2007, meskipun menyadari saya bermasalah dengan kemampuan berbicara di depan umum, saya cukup nekat untuk mendaftarkan diri ke sebuah konferensi internasional yang kemudian menjadi momentum yang membuka wawasan saya terkait banyak hal. Saat itu materi saya diterima sebagai bagian dari presentasi lisan. Senang? Tentu saja! Tapi juga kuatir dan panik mengingat ini akan menjadi momen pertama saya berbicara di depan publik di dunia internasional dalam bahasa Inggris. Di negeri orang pula!

Saya pun mempersiapkan diri. Salindia disiapkan sebelum berangkat dan itulah pertama kalinya saya belajar bagaimana melakukan presentasi. Saat itu, pembimbing saya mengajak saya melakukan presentasi di depan istrinya yang juga dekan FMIPA, Ibu Cinthya Linaya Radiman. Pengalaman yang satu ini tak terlupakan!

Untuk pertama kalinya saya belajar bagaimana mendisiplinkan diri melakukan presentasi sesuai waktu yang diberikan, mengatur alur presentasi agar semuanya mengalir dengan baik. Plus bagaimana bersikap saat berbicara dan mengatur suara. Dan yang paling berkesan, ketika saya ragu dengan pekerjaan saya, beliau berkata, tidak ada pekerjaan yang tidak bernilai. Ketika materimu diterima, itu artinya panitia ingin kamu menceritakan pekerjaanmu. Kamu tidak akan diuji. Dan ini bukan tentang layak tidak layak karena cuma kamu yang mengenal betul pekerjaanmu sendiri. Kamu yang tau masalah dan jalan keluarnya. Keep the faith and pray!

Saat di konferensi internasional pertama saya di negeri orang itu, saya juga diberi wejangan kalau kunci sebuah presentasi adalah bagaimana kita menceritakan pekerjaan kita. Seberapa jauh kita memahami materi yang dibawakan sehingga dapat menyarikannya dan memaparkan inti pekerjaan kepada publik dalam waktu yang singkat. Biasanya 15 menit. Singkatnya, saya diberi wejangan untuk bercerita saat melakukan presentasi sebagaimana saya bercerita ketika ditanya saat belum melakukan presentasi.

Dan sejak itulah saya justru tertarik untuk melakukan presentasi lisan saat konferensi. Alasannya, saya menikmati bercerita dan saya tak perlu buru-buru menyiapkan salindia, tidak harus mencetak dan menggotong tabung poster kemana-mana. Itu sih dari segi kepraktisan dan kebiasaan procrastinator yang buruk!

Lepas dari itu… apakah lisan dan poster ada yang lebih hebat dan ada yang tidak?

Presentasi Lisan vs Poster
P7-27 Yamani.001Presentasi lisan dan poster memiliki karakter yang berbeda. Demikian pula dengan kelebihan, kelemahan maupun tantangannya. Dan bagi saya pribadi keduanya tidak dapat begitu saja dibandingkan hitam dan putih mana yang lebih menarik atau mana yang lebih hebat. Tapi mari kita lihat sekilas satu persatu metode presentasi dalam sebuah konferensi tersebut.

Tipe presentasi yang satu ini memang menjadi pilihan banyak orang.  Presentasi lisan dalam sebuah konferensi memang menjadi pilihan mengingat si penyaji bisa secara langsung menyampaikan materinya kepada peserta konferensi lainnya. Setidaknya penyaji bisa bercerita pada puluhan atau ratusan orang yang memilih hadir dan mendengarkan. Dan dengan menuturkan secara langsung di depan peserta, maka ia akan memperoleh tanggapan baik saran, kritik ataupun kolaborasi.

Dalam presentasi lisan, diperlukan pemaparan yang singkat, padat dan jelas yang dapat memberikan pemahaman apa, mengapa dan bagaimana pada para peserta.

Bagi saya, presentasi lisan itu menyenangkan karena saya dapat menceritakan pekerjaan saya secara langsung kepada banyak peserta sekaligus. Proses mempersiapkan salindia juga menjadi salah satu yang saya sukai, karena merancang tata letak, latar belakang, memilih warna dan huruf yang sesuai menjadi tantangan lainnya. Perlu diingat, desain yang menarik tapi tidak memberi kenyamanan pada peserta saat membaca konten pun tidak ada gunanya.

Dari sisi waktu, presentasi lisan pada umumnya memberikan alokasi waktu 15 menit pada setiap penyaji. Dan 15 menit selalu terasa kurang untuk bisa menceritakan semua yang ingin diceritakan. Apalagi sudah termasuk perkenalan dan tanya jawab. Inilah tantangan lainnya untuk dapat mengolah ide utama menjadi paparan cerita singkat selama 10-12 menit.

Seringkali masalah waktu ini dianggap sepele karena dalam beberapa pertemuan di Indonesia, moderator abai untuk menegur dan mengingatkan penyaji. Akibatnya si penyaji mengambil alokasi waktu penyaji lainnya dan menjadi preseden buruk bukan saja bagi si acara tapi juga bagi penyaji.

Perlu diingat, menyajikan materi melebihi alokasi waktu dalam sebuah konferensi itu bukan berarti keasikan atau materi yang super menarik, atau materi yang terlalu banyak, melainkan ketidakmampuan untuk memahami dan mengambil sari dari penelitian untuk disajikan dengan singkat, padat dan jelas.

Bagi saya, keuntungan presentasi lisan selain dapat bercerita di depan puluhan orang sekaligus, saya juga bisa memiliki waktu yang lebih panjang sampai sehari sebelum presentasi untuk menyiapkan salindia. (yang ini jangan ditiru deh)

Poster
AstroMedia-Poster-smallSeperti namanya, presentasi yang satu ini disajikan dalam bentuk poster dengan ukuran A1 atau A0. Artinya, si penyaji sudah harus menyelesaikan dan mencetak posternya sebelum menghadiri konferensi. Poster akan dipasang di sebuah ruang bersama dengan poster-poster lainnya, yang biasanya jumlahnya juga cukup banyak.

Asyiknya membuat poster, setelah poster selesai dan dipasang, penyaji tidak akan dilanda kekuatiran tentang bagaimana berbicara di depan publik dalam bentuk presentasi lisan. Memang sebagian konferensi memberi kesempatan pada penyaji poster untuk memaparkan makalahnya dalam presentasi lisan dan disajikan dalam waktu 1-3 menit meskipun tidak wajib.

Tantangan terbesar dalam membuat poster adalah bagaimana merancang poster agar tampak menarik dan dipahami oleh peserta yang membacanya. Tak berbeda dengan lisan, disini penyaji juga harus bisa merancang poster yang indah, nyaman dibaca dan yang pasti dapat menyampaikan apa, mengapa, dan bagaimana. Meskipun ruang berkarya cukup besar tapi poster yang efektif bukanlah yang menyalin makalah ke dalam poster. Tantangan lainnya, karena poster dipasang bersama poster-poster lainnya, maka penyaji diharapkan proaktif membangun jejaring dan mengajak peserta lainnya untuk mengunjungi posternya. Atau setidaknya penyaji selalu berada di dekat posternya untuk mengajak peserta yang sedang melihat poster lainnya untuk singgah.

Menariknya, peserta yang tertarik biasanya selain karena desain yang menarik, juga karena topik tersebut menarik atau bidang kerjanya. Disini penyaji punya waktu lebih banyak untuk menjelaskan seluruh pekerjaannya sehingga dapat meminimalisasi salah paham. Waktu yang lebih banyak memberi kesempatan yang lebih besar untuk mengeksplorasi sebuah poster dan membangun jejaring kolaborasi. Penyaji juga dituntut untuk sabar menjelaskan berulang-ulang pada peserta yang berbeda.

Tantangan lainnya adalah menjelaskan materi poster lewat presentasi lisan singkat 1-3 menit dengan ide 1 salindia 1 menit.  Penyaji ditantang untuk benar-benar memahami dan dapat mengambil inti yang penting dari makalahnya untuk disajikan dengan menarik agar para peserta lainnya mengunjungi posternya atau paling tidak bertanya dan berdiskusi.

Presentasi singkat ini tampak tidak penting bagi sebagian peserta konferensi. Bayangkan, hanya   2-3 salindia dalam waktu 2-3 menit. Apa yang bisa disampaikan?

Saya pun dulu berpikir demikian sampai ketika saya diharuskan menyajikan makalah saya dalam presentasi pecha kucha. Pecha kucha merupakan presentasi dimana salindia akan berganti secara otomatis setiap 20 detik dan penyaji harus menyelesaikan seluruh ceritanya dalam 20 salindia. Dan ketika saya harus menceritakan pekerjaan saya dalam waktu 3 menit dengan 3 salindia. Disini saya belajar dari koordinator kami bahwa ide dari presentasi singkat ini adalah agar penyaji benar-benar memanfaatkan waktu yang ada untuk menyampaikan inti pekerjaannya atau apa yang penting dan paling signifikan dari penelitian atau pekerjaannya tersebut.

Konferensi terakhir yang saya ikuti, memberikan kesempatan pada saya untuk merasakan presentasi lisan dan poster sekaligus. Dan yang paling menantang adalah presentasi poster 2 menit dalam sesi lisan.

Saya memperoleh kesempatan melakukan presentasi poster di hari terakhir sesi terakhir sebelum penutupan. Artinya, pada saat saya selesai presentasi, maka peserta lain tidak akan dapat mengunjungi poster saya. Apalagi penutupan akan dilaksanakan dan sebagian besar poster sudah dilepas dari ruang poster. Lantas apakah presentasi itu jadi tidak penting untuk dilakukan?

Bagi saya, kesempatan dua menit tetap harus digunakan. Disini saya, sebagai penyaji ditantang bukan saja untuk dapat menyampaikan pekerjaan saya tapi mengajak peserta untuk melihat poster meskipun tidak dikunjungi secara fisik. Yang saya lakukan, saya unggah poster di web dan saya berikan tautan agar dapat diunduh oleh peserta lainnya.

Dan curilah momen yang ada di konferensi agar dirimu bisa dikenal bukan dengan melakukan hal-hal bodoh tapi dengan membangun jejaring dengan peserta konferensi lainnya.

Saya bukan contoh yang baik untuk poster, karena itu saya selalu memilih lisan.

Tapi dalam konferensi terakhir saya, ada seorang peserta dari Jepang yang meski komunikasi agak menjadi kendala namun ia dengan bersemangat selalu mengajak peserta datang ke posternya dan ia selalu siap menjelaskan panjang lebar pekerjaannya. Dan di hari terakhir ketika ia menyajikan makalahnya itu lewat sajian 2 menit, ia pun tetap mencuri perhatian dengan terus menerus memperkenalkan diri dan mengajak peserta lainnya untuk terlibat dengan apa yang ia kerjakan.

Jadi mana yang lebih penting? Lisan dan Poster tidak dapat dibandingkan begitu saja. Keduanya sama penting.. dan keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Intinya bukan pada mana yang lebih hebat tapi bagaimana si penyaji dapat mencuri perhatian peserta lewat poster maupun lisan.

Share this entry
3 Comments
  1. bagus….info yang berimbang. Mesti dicoba keduanya…..

    Reply
  2. sangat bermanfaat…
    saya mahasiswa di universitas negeri malang, untuk pertama kali mengikuti seminar internasional sebagai penyaji. dan saya mendapat bagian di poster presentation.
    penjelasan ini memberikan sya gambaran ttg presentasi melalui poster.
    terima kasih ilmunya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori