avivah.co

astronomi komunikasi

Home / EPO / Audio Sebagai Media Edukasi
May 28 2014

Audio Sebagai Media Edukasi

Dahulu kala… tapi nggak dulu dulu buanget seperti di cerita rakyat atau dongeng. Setidaknya dulu waktu saya masih sekolah alias masih duduk di bangku SD, SMP dan SMA, saya punya ketertarikan yang sangat tinggi dengan sandiwara radio.

    Promo Sandiwara Radio Saur Sepuh. Kredit: http://arsiparmansyah.wordpress.com

Promo Sandiwara Radio Saur Sepuh. Kredit: http://arsiparmansyah.wordpress.com

Sampai-sampai saya dibelikan sebuah radio kecil untuk mendengarkan sandiwara kesayangan saya itu. Jadi kalau misal ada yang heran kenapa orang jadoel keliling make headset dengan walkman di jalanan. Maka saya juga termasuk orang aneh yang kalau jalan selalu membawa radio yang diletakkan di bahu demi mendengar kisah klasik Saur Sepuh, Babad Tanah Leluhur, Putri Cadar Biru, Tutur Tinular, Mahkota Mayangkara, Ibuku Malang Ibuku Tersayang, Galang Gemilang dll.

Radio atau lebih tepatnya audio memang memukau saya. Tidak mudah membuat pendengar larut dalam imajinasi liar sebuah kisah. Bagi saya, membaca dan mendengarkan cerita yang dituturkan lewat audio justru lebih membangkitkan rasa ingin tahu dan imajinasi.  Tapi memang kemampuan interpretasi para pekerja dunia film dan animator yang merealisasikan imajinasi dalam tayangan visual juga memberi nuansa tersendiri.

Meskipun belasan tahun atau malah hampir 20 tahun saya tidak lagi aktif mengikuti sandiwara radio, bahkan saya pun tidak tahu sandiwara radio masih ada atau tidak. Akan tetapi kekuatan audio selalu memberi daya tarik tersendiri bagi saya.  Dan sepertinya ketertarikan itu semakin kuat ketika saya bekerja di Astrosphere New Media sebagai Project Manager 365 days Of Astronomy.

365 Days Of Astronomy dimulai tahun 2009 sebagai bagian dari International Year of Astronomy, dan madih terus berlanjut sampai 2014. Idenya adalah memperkenalkan astronomi lewat podcast yang disiarkan setiap harinya. Jadi setiap hari akan ada satu podcast baru untuk didengarkan. Isinya tentu saja astronomi. Dan saya pun tertarik untuk ikut bercerita tentang astronomi lewta audio. Salah satu segmen yang saya isi adalah Astronomy Folklore dengan dongeng astronomi dari seluruh dunia, khususnya dari Indonesia. Pendengarnya? Statistik menunjukan untuk folklore pendengarnya bisa mencapai 2000 per episode.

Dari sinilah saya kemudian tertarik untuk berkontribusi lewat audio. Pertanyaannya, apakah di era gadget ini masih ada yang tertarik mendengarkan audio? Bukankah lebih menyenangkan dan memberi efek megah atau bahkan membuat penonton terpukau jika dilakukan lewat visual?

Sebagai penyuka visual, saya juga tak menafikan kalau visualisasi suatu cerita atau materi membangun pemahaman yang baik akan suatu materi. Apalagi jika penyajiannya dalam bentuk audio-visual. Jelas akan sangat membantu. Lagi-lagi ada kekuatan audio disana.

Tapi secara pribadi, meskipun saya menyukai visualisasi video tapi seringkali saya lebih menyukai mendengarkan sesuatu sambil jalan dan melakukan aktivitas lainnya. Memang membutuhkan konsentrasi yang baik untuk mendengarkan tapi itu justru menjadi tantangan tersendiri untuk saya untuk bisa belajar sambil menyelesaikan tugas-tugas lainnya. Alias mampu membagi konsentrasi 🙂

Audio sebagai media edukasi
Podcast-iconNah, terkait audio sebagai media pembelajaran menurut saya menarik dan sederhana serta mudah dibuat dan digunakan. Audio podcast merupakan bentuk paling umum dari podcast yang ada saat ini. Ada juga video podcast, enhance podcast maupun screenshot. Di era gadget seperti saat ini, memutar audio dan video sebenarnya mudah dilakukan karena semua perangkat sudah memfasilitasinya. Apalagi kemanapun kamu pergi tentu diperlengkapi dengan setidaknya alat pemutar musik dan atau ponsel pintar aka smartphone yang tentu saja mampu juga memutar musik dan video untuk menemani perjalananmu.  Yang pasti masing-masing memiliki nilai tambah dalam menyampaikan pesan kepada pemirsanya. Tapi untuk tulisan kali ini mari kita membahas dari sisi audio.

Mengapa audio? Alasannya sederhana, audio lebih kecil dibanding video, jika kamu bermasalah dengan kapasitas dan bandwidth.

Alasan paling mudah untuk memilih audio adalah dapat diputar dimanapun baik di jalan, di kereta, bus dll. Bahkan bisa dinikmati sambil melakukan aktivitas lainnya. Bagi yang sering multitasking, audio merupakan pilihan yang pas untuk belajar. Setidaknya itulah yang saya lakukan.  Yang pasti audio merangsang pendengar untuk berimajinasi dan membayangkan konten yang sedang ia dengarkan. Audio juga memaksa si pendengar untuk belajar memahami pelafalan dari podcaster yang kadang memiliki kekhasan dalam berbicara yang mungkin tidak semuanya mudah dipahami, terutama jika podcaster berbicara dalam bahasa asing.

Jika kita berbicara tentang astronomi. Jauh lebih mudah menyuguhkan video dan gambar. Akan tetapi ini juga yang menjadi tantangannya. Bagaimana menyajikan astronomi dalam bahasa yang lebih sederhana lebih mudah dipahami dan dapat dibayangkan oleh pendengar.

Bagi masyarakat kita yang jauh lebih akrab dengan budaya tutur, seharusnya audio menjadi alternatif yang baik sebagai media edukasi.  Audio juga sangat membantu tidak saja sebagai media edukasi untuk kita, akan tetapi bisa menjadi pilihan media pembelajaran bagi mereka yang memiliki disabilitas penglihatan.

Jika kita persingkat, ini beberapa alasan lain mengapa audio digunakan dalam edukasi:

  • Review dan revisi  – konten dapat digunakan sebagai referensi dan diputar ulang kapanpun
  • Pengganti saat tidak mengikuti pelajaran
  • Media pendukung bagi yang mengalami kesulitan dalam membaca atau kesulitan belajar lainnya
  • Bisa disebarkan pada pemirsa yang lebih luas

Hal lain yang juga membuat saya menyukai audio adalah kemudahan untuk membuat materi dalam bentuk audio dibanding video. Modal membuat audio hanya konten yang ingin disampaikan dan alat perekam. Itu pun bisa dengan mudah diperoleh saat ini. Ponsel pintar dalam genggaman bisa menjadi perangkat perekam atau rekaman bisa dilakukan dengan laptop ataupun komputer meja. Yang dibutuhkan sebagai perangkat tambahan adalah mikrofon atau bisa gunakan earphone yang dilengkapi mikrofon yang sering kamu gunakan untuk menelpon. Kebutuhan lain adalah aplikasi untuk merekam. Untuk saya pribadi, rekaman bisa dilakukan menggunakan GarageBand, recordium, italk atau voice memo. Tapi memang yang paling sering saya gunakan adalah GarageBand. Untuk multiplatform dan gratis, bisa gunakan Audacity. Penyimpanan berkas audio pun bisa dilakukan di online storage.

Kekuatan dari audio ada pada naskah yang disampaikan dan bagaimana kamu menyampaikannya. Kita tak perlu repot berpikir bagaimana membuat ilustrasi gambar atau animasi maupun materi visualisasi dari konten yang hendak disampaikan. Yang dibutuhkan adalah naskah yang mudah dipahami dan setelah itu, silahkan rekam suaramu. Tapi bukan berarti karena hanya perlu naskah lantas konten yang dibuat asal-asalan.

Dan kalau pertanyaan apakah audio masih didengar di negeri tercinta Indonesia ini? Saya belum punya data statistik pengguna Indonesia yang menyukai audio podcast. Akan tetapi itu bukan alasan untuk tidak pernah mencoba bukan?

Saya sendiri masih pemula akan tetapi ketertarikan saya pada audio membuat saya nekat mencoba merekam suara sendiri untuk berbagi cerita. Terutama untuk mendongeng yang terkait astronomi.

Beberapa materi yang pernah saya rekam bisa didengar di :

Podcast pertama saya:
The History of Bosscha Observatory 1919-1939

Q&A
What if the Sun didn’t exist?
Why is it that Mercury and Venus didn’t have a moon?

Space Scoop:
Cosmic Demolition in the Asteroid Belt
The Many Faces of our Night Sky
Does Anyone Fancy a Drink?
Uncovering Mysterious Hidden Gems of our Galaxy

Astronomy Folklore:
Sail to the Sky
Kites to Reach the Sun
Two Brothers and the Pointer Stars
The Southern Cross
How Maui Slowed The Sun
The Sun & The Moon
Dhruva, The Pole Star
Breaking The Sun
Legend of Chang’e the Goddess of the Moon
Hala Na Godang, The Constellation Orion
Kilip & The Moon Princess

Share this entry
2 Comments
  1. kelau sekarang untuk media pembelajaran kebanyakan menggunakan media video karena lebih mudah dimengerti….

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori