avivah.co

astronomi komunikasi

Home / Catatan / Dark Sky Meter
May 16 2013

Dark Sky Meter

Pernah dengar Earth Hour yang diadakan setiap tahun? Kampanye serupa juga dijalankan para astronom. Namanya Dark Sky Week dan Globe at Night Campaign.  

Earth Hour biasanya diadakan di sabtu ke-4 di bulan Maret atau kisaran tgl 26-30 Maret (lupa!), nah Dark Sky Week yang diadakan tiap tahun oleh International Dark Sky Association justru dilangsungkan di minggu kedua bulan April. Sedangkan Globe at Night punya kegiatan yang lebih lama yang diadakan selama beberapa bulan di awal tahun.

Polusi Cahaya. Kredit: cestomano.com / © Some rights reserved. Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives license.

Polusi Cahaya. Kredit: cestomano.com / © Some rights reserved.
Licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives license.

Dan sudah beberapa tahun ini saya pribadi terlibat dalam menerjemahkan materi Globe at Night ke dalam Bahasa Indonesia dan bisa diunduh di web GlobeAtNight.org.

Selain ke-3 program serupa yang sudah dikenal masyarakat, di Indonesia ada juga kampanye lain yang bertujuan sama yakni Save Bosscha Observatory. Nah semua kegiatan ini dimulai dengan satu ide yang sama memerangi eh mengurangi Polusi Cahaya perkotaan yang semakin lama semakin parah.

Tapi apa itu polusi cahaya? Secara sederhana, polusi cahaya merupakan kondisi yang timbul sebagai akibat dari penggunaan cahaya berlebih dan dipancarkan ke langit. Polusi cahaya paling banyak terjadi di area perkotaan dimana kehidupan masyarakatnya semakin maju dengan segala kebutuhannya.  Cahaya artifisial di perkotaan yang ada di luar rumah yang berlebihan inilah yang kemudian menyebabkan langit di sbeuah kota seperti ditutupi kubah cahaya. Inilah yang menjadi permasalahannya.

Efeknya yang paling terasa adalah bagi para astronom yang kesulitan melihat obyek-obyek langit karena ketika kita mengarahkan pandangan ke langit kita akan terlebih dahulu berhadapan dengan lapisan cahaya lampu kota yang memenuhi langit dan menghalangi pandangan ke obyek-obyek langit. Akibatnya makin sedikit obyek langit seperti bintang dan planet yang bisa dilihat dari kota. Efek lainnya juga terasa untuk hewan maupun pola hidup manusia. Lengkapnya bisa dibaca di tulisan saya tentang Polusi Cahaya, Kubah Cahaya di Perkotaan.

Bagaimana kita bisa tahu sebuah lokasi mengalami polusi cahaya jika kita di dalamnya tidak merasakan atau bisa melihat sendiri kubah cahaya yang melingkupi kota? GlobeAtNight dalam kampanyenya mengajak siswa, guru dan keluarga untuk mengamati rasi Leo, Orion dan Crux. Tujuannya gambarkan kembali bintang yang berhasil dilihat dari ke-3 rasi itu dan bandingkan dengan peta yang diberikan maka akan ketahuan apakah langitmu terkontaminasi cahaya atau tidak.

DSMCara lain, gunakan alat yang namanya Sky Quality Meter (SQM). Alat ini digunakan untuk mengukur kecerlangan langit apakah langit yang sedang kita lihat bersih dari polusi cahaya atau terkontaminasi polusi cahaya. Sudah beberapa waktu saya ingin membelinya tapi harga dan ongkir lumayan juga.

Sampai semalam saya baca dari Globe At Night, ada aplikasi untuk ios yang bisa digunakan untuk mengukur tingkat kecerlangan cahaya. Namanya Dark Sky Meter. Harganya IDR 39000. Ada versi Dark Sky Meter Lite yang seharusnya tidak berbayar tapi tampaknya sedang ditarik karena ada problem teknis.

Jadi karena penasaran dan harganya jauh banget dibanding si Sky Quality Meter, maka saya putuskan untuk membeli si Dark Sky Meter Pro. Aplikasi yang sederhana karena dia memanfaatkan kamera iphone untuk menganalisa langit yang kita tuju. Bedanya dengan Sky Quality Meter jelas ada. SQM memiliki medan pandang 40º sedangkan aplikasi Dark Sky Meter hanya 15º. Tapi untuk edukasi masyarakat akan langit gelap, aplikasi ini sangat berguna.

Ketika saya coba semalam, aplikasi Dark Sky Meter memberi analisa kalau langit di bandung atau tepatnya di rumah saya itu sangat terang sehingga hanya bulan, planet dan bintang terang yang bisa dilihat. Selain penjelasan singkat tersebut, Dark Sky Meter juga memberikan hasil SQM dari langit yang diamati disertai limiting magnitudo obyek yang bisa dilihat. Setelah memperoleh hasil SQM maka kita bisa turut berpartisipasi mendeteksi tingkat polusi cahaya di area rumah kita.

Selain itu ada ramalan awan aka cloud prediction untuk memperkirakan kondisi langit apakah akan tertutup awan ataukah tidak selama beberapa hari berikutnya.

Perbedaan dengan yang versi Lite saya belum coba sendiri karena versi Lite masih ditarik dari peredaran.

Dark Sky Meter ini bekerja baik untuk iPhone 4s dan iPhone 5 yang memiliki kamera yang bekerja baik pada kondisi dengan sedikit cahaya. Sedangkan untuk iPhone 4 meskipun bisa digunakan tapi tidak bisa maksimal bekerja.

Buat teman-teman yang ingin mencoba, selamat mencoba dan berpartisipasi dalam memerangi polusi cahaya. Yang pasti aplikasi ini akan sangat berguna untuk saya dalam melakukan penjangkauan publik!

Ingin tahu seperti apa langit Indonesia jika tidak ada polusi cahaya? Kunjungi juga laman fotografi berikut:

Astrofotografi dari si anak desa: http://sianakdesa.com/category/astronomy/
Foto-foto dari Ronny Syamara: https://www.flickr.com/photos/67813122@N06/
Kontribusi dari langit Indonesia di TWAN bisa dinikmati di Galeri Tamu dari Indonesia

Share this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori