avivah.co

astronomi komunikasi

Home / EPO / Menyajikan Sains Sebagai Santapan Lezat
May 8 2013

Menyajikan Sains Sebagai Santapan Lezat

Astronomi. Pertama kali masuk kuliah bahkan sampai lulus pun saya tahunya astronomi itu cuma punya kajian tentang Tata Surya, Fisika Bintang, Galaksi dan Kosmologi.

Dan sampai saat ini pun ke-4 bidang kajian itu masih jadi pilihan utama di Astronomi ITB maupun dalam dunia penelitian. Meski demikian setiap kajian tentu punya topik-topik khusus yang bahasannya sangat luas. Untuk kajian di tingkat paska sarjana ada bidang astronomi edukasi yang juga bisa dipilih saat ini.

Saat kuliah saya mengambil kajian sistem keplanetan dan khusus membahas dinamika sistem planet di bintang lain yang kita kenal dengan nama sistem extrasolar planet.  Dulu sih terpikir akan menjadi peneliti di bidang itu. Tapi sepertinya minat berkata lain.

Tahun 2005, saya berkenalan lebih jauh dengan dunia populerisasi astronomi lewat majalah dan web. Dan tampaknya perkenalan itu terus berlanjut sampai saat ini. Idenya sederhana, memperkenalkan astronomi yang “njlimet” untuk bisa dinikmati semua orang. Apalagi astronomi itu fenomena yang sebenarnya juga kita temui setiap hari, bahkan menjadi bagian dari kehidupan manusia. Contoh paling dekat adalah kalender dan GPS. Sistem yang ada saat ini tak pelak merupakan hasil pengamatan secara terus menerus di masa lalu. Sekarang sih semuanya tinggal pakai. Tapi bukan berarti kita tidak lagi mempelajarinya.

kredit: ivorytower website

kredit: ivorytower website

Edukasi publik untuk memperkenalkan sains dan astronomi memang sudah dilakukan sejak dahulu. Apalagi astronomi ini termasuk ilmu yang unik. Ia tidak hanya dipelajari di level pendidikan tinggi. Para penyuka astronomi bisa menggeluti hobi mereka dan memberi kontribusi pada astronomi secara ilmiah atau tetap dilakukan sebagai hobi. Di astronomi inilah kita mengenal ada yang namanya astronom profesional dan amatir. Profesional megacu pada mereka yang bekerja di institusi astronomi sedangkan amatir merupakan kaum hobbyist yang suka astro tapi tidak bekerja di bidang astronomi.

Selain astronomi banyak digemari, ada banyak kejadian langit yang juga memicu keingintahuan masyarakat. Sebut sata oposisi Mars 2003, Transit Venus 2004 yang membuat masyarakat berbondong-bondong datang ke Observatorium untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Minimnya informasi astronomi yang benar di masyarakat memang menimbulkan spekulasi tentang kejadian langit yang dikait-kaitkan dengan ramalam masa depan.

Disinilah awal ketertarikan saya pada dunia edukasi dan populerisasi astronomi. Dan di tahun 2007, saya baru tahu kalau kegiatan ini punya wadah dan juga dilakukan secara profesional.

Communicating astronomy with the public. Inilah wadah bagi astronom komunikator untuk berbagi cerita, metode, permasalahan maupun ide baru mengenai komunikasi astronomi untuk masyarakat. Kajian yang paling sering muncul memang terkait edukasi dan public outreach yang dilakukan di seluruh dunia untuk memperkenalkan dan membangun awareness astronomi pada masyarakat. Dari paparan yang diberikan oleh para pelaku komunikasi astronomi maupun edukator memberikan gambaran kebutuhan, solusi, model yang baik dll untuk membangun komunikasi astronomi yang efektif bagi masyarakat.

Dan inilah yang juga dilihat International Astronomical Union sebagai sebuah kebutuhan dasar sehingga mereka menjadikan Communicating Astronomy with the Public sebuah komisi yang kemudian membangun sistem dan guideline untuk melakukan komunikasi astronomi secara efektif.

Ketika kita berbicara tentang komunikasi astronomi, kita sebenarnya sedang membicarakan komunikasi sains secara umum karena astronomi itu sendiri merupakan bagian dari sains yang sangat luas.  Keunikannya, astronomi tidak bisa dilepaskan dari sains secara utuh karena astronomi punya keterkaitan yang erat dengan kajian lain seperti fisika, matematika, kimia, biologi, geologi, arkeologi, informatika, elektro dll.

Artinya ketika kita bercerita tentang astronomi kita tidak hanya membangun ketertarikan pada satu bidang ilmu melainkan pada sains secara umum baik ilmu alam maupun ilmu sosial.

Tapi apa itu komunikasi sains? dan apakah memang perlu dan harus ada?

Komunikasi Sains
lady-chefSeperti yang saya sebutkan di awal, komunikasi sains merupakan jembatan antara komunitas saintifik dan masyarakat umum yang memberikan contoh terkait metode sains maupun cerita sukses dari dunia sains kepada masyarakat sekaligus turut memberi sumbangsih kepada dunia pendidikan.

Para pelaku komunikasi sains yang disebut sains komunikator inilah yang bertugas untuk mengolah hasil penemuan, teori baru dan data yang diberikan para ilmuwan untuk menjadi sebuah cerita dan paparan yang mudah dipahami oleh masyarakat. Contohnya ada penemuan planet laik huni baru di bintang lain. Para astronom dalam bahasanya akan mengatakan ada planet laik huni baru mirip Bumi yang ditemukan. Diperkirakan bisa ada kehidupan di sana.  Nah, disini para komunikator bertugas menceritakan dan memberikan pemahaman yang benar apa itu planet laik huni dan mirip Bumi itu seperti apa. Ada kehidupan yang disebut astronom itu seperti apa. Karena tanpa itu orang awam akan langsung menyimpulkan ada manusia lain atau kehidupan seperti di Bumi di planet baru itu.

Itu dari sisi astronomi. Dari sisi perkembangan sains secara umum, kebutuhan komunikasi sains semakin terasa di masa kini karena kita hidup dalam era dimana perkembangan teknologi membawa perkembangan sains maju dengan sangat pesat. Disinilah dibutuhkan awareness dari publik akan perkembangan sains dan teknologi tersebut agar masyarakat juga memahami bahwa perkembangan sains dan teknologi itu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tak hanya itu, membangun kesadaran masyarakat akan sains juga memberi ruang untuk bisa mengimbangi pengaruh yang datang dari mencampur adukkan perkembangan sains dengan kepercayaan, mistik dll seperti misalnya menghubung-hubungkan kejadian langit dengan hari kiamat atau dengan ramalan nasib ala astrologi.  Keberadaan komunikator justru untuk memberikan informasi dan membangun persepsi sains yang benar untuk masyarakat.

Tapi, berbagai perkembangan sains dan teknologi yang biasanya menarik dan punya pengaruh bagi kehidupan masyarakat tersebut seringnya tidak tersampaikan dengan baik. Para ilmuwan yang ada di balik penemuan-penemuan tersebut berbicara dalam bahasa ilmiah yang seringkali tidak dipahami oleh masyarakat dan berpotensi menimbulkan interpretasi yang salah. Maka disinilah jembatan itu dibutuhkan untuk menyampaikan gambaran besar dari hasil penelitian ilmiah tersebut sekaligus pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat.

Jadi sederhananya para komunikator sains seperti koki yang memimpin di dapur untuk menyiapkan berbagai makanan dengan teknik memasak yang juga “njlimet” tapi bisa disajikan dengan indah dan lezat untuk disantap. Komunikator sains pun demikian. Tugas menyajikan masakan yang diolah dari hasil penelitian para ilmuwan menjadi santapan lezat dan mudah dicerna oleh masyarakat. Juga untuk mempermudah kerja para jurnalis supaya tidak perlu lagi membaca tumpukan paper hanya untuk mendapatkan gambaran besar dari sebuah penemuan dan efeknya pada masyarakat.

Memaparkan hasil yang diperoleh oleh sains dan teknologi menjadi penting karena ini juga tanggung jawab dari para peneliti untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dan negara untuk kelangsungan perkembangan sains itu sendiri. Tanpa adanya pemaparan hasil tersebut, akan sulit untuk bisa mendorong para pelajar untuk menekuni sains dan berkarir di bidang sains dan teknologi. Selain itu, para pengambil keputusan baik di tingkat negara ataupun badan perusahaan akan bisa melihat bahwa apa yang sedang dikerjakan memberikan hasil positif untuk kehidupan masyarakat dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Nah, kalau mengutip Mitton, ada kontrak sosial yang harus dipenuhi. Dan kontrak sosial dari para ilmuwan itu belum selesai kalau hasil penelitiannya belum dipublikasikan ke masyarakat.

Lantas apa pengaruhnya penelitian astronomi yang nun jauh di luar Bumi dengan masyarakat di Bumi?

Pertanyaan mendasar tentang kehidupan lain di alam semesta sebenarnya membawa manusia pada penelusuran alam semesta yang tak kunjung pupus. Hasil nan indah yang dipertunjukkan dari alam semesta tidak hanya mengundang decak kekaguman masyarakat tetapi juga menjadi pintu untuk memperkenalkan sains, teknologi bahkan budaya bagi masyarakat. Selain itu, penerapan teknologi luar angkasa juga menjadi pionir yang kemudian diaplikasikan dalam teknologi yang digunakan oleh industri dan kehidupan sehari-hari.  Disinilah kemudian para komunikator harus mampu menjelaskan apa pentingnya sebuah penelitian bagi masyarakat. Karena tak bisa dipungkiri, masyarakat awam meskipun terkagum-kagum dengan keindahan alam semesta, tetap saja akan muncul pertanyaan, apa gunanya penelitian ini?

Nah untuk bisa memaparkan hasil dari dunia sains, komunikasi sains tidak hanya melibatkan seseorang yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik saja. Dibutuhkan seseorang yang memahami sains itu sendiri sehingga dapat diolah menjadi santapan yang mudah dicerna masyarakat dan menarik perhatian. Tak hanya itu, komunikasi sains juga membutuhkan pengetahuan tentang teknologi, jurnalisme dan komunikasi visual.

Komunikasi sains ini biasanya melibatkan populerisasi sains, science outreach, PR (public relation), atau bahkan science marketing. Tujuannya tak lain dari “menjual” cerita sains yang mudah dicerna tapi tidak kehilangan esensi sains itu sendiri.

Komunikasi Sains di Negara Berkembang
Dengan mengkomunikasikan sains kepada masyarakat, menara gading yang muncul dan tercipta antara masyarakat dan ilmuwan juga bisa terjembatani. Saat ini, negara-negara maju seperti Amerika maupun Eropa sudah melihat kebutuhan komunikasi sains sebagai kebutuhan mendasar. Setiap institusi baik observatorium, lembaga antariksa maupun universitas sudah memiliki departemen yang mengurusi komunikasi sains untuk memaparkan hasil dari institusi tersebut. Di negara-negara berkembang, kebutuhan ini meskipun disadari kebutuhannya namun masih kurang mendapat perhatian. Karena seringkali komunikasi sains dianggap bukan sesuatu yang saintifik dan hanya merupakan kerja sampingan dan bisa dilakukan sendiri oleh para ilmuwan.  Komunikasi sains masih sebatas memberikan informasi yang benar kepada masyarakat dan belum masuk pada tataran membangun sebuah sistem bagaimana melakukan komunikasi yang efektif dan menarik.

Jika mengacu pada institusi di negara maju semisal NASA ataupun ESO, komunikator astronominya melibatkan komunikator profesional, artis, public relations dan para pekerja komunikasi visual untuk membangun wadah komunikasi efektif bagi hasil penelitian mereka sekaligus berperan sebagai lobbyist untuk menarik perhatian para pemberi dana.

Bisa disimpulkan kalau sains komunikator merupakan garda depan yang memegang peran vital dalam menyampaikan perkembangan sains ke masyarakat. Karena ia tidak sekedar memberikan informasi tapi juga membangun jalinan kepercayaan dan kerjasama antara ilmuwan sebagai pelaku sains dan masyarakat sebagai konsumen.

Share this entry

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Kategori